CERPEN  

Harum Kapur Barus di Ujung Sumur Batu

Penulis: A.A.HaqFaris (AangFaris)…

Pagi di Desa Sumur Batu, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang, selalu datang bersama embun yang betah berlama-lama di pucuk daun pisang. Di ruang guru SD Negeri Sumur Batu 1, Mutmainah—seorang guru perempuan berhati lembut yang sabar menghadapi dinamika pelosok—sedang merapikan buku absen.

Namun, ketenangan paginya seketika buyar begitu suara berisik dari luar pintu menginterupsi. “Bu Guru! Duh, Gusti, si Mutmainah ada di dalam kan? Untung belum masuk kelas!”
​Belum sempat Mutmainah menjawab, tirai kain jendela tersingkap kasar. Munculah Bu Emeh, ibu dari Robin—siswa paling bengal di kelas 2. Dengan gincu merah terang yang terpoles agak berlebihan dan kerudung instan yang miring ke kanan, Bu Emeh langsung nyelonong masuk tanpa salam. Gayanya selalu begitu: heboh, sok narsis, dan merasa paling tahu seisi kampung.

​”Ada apa, Bu Emeh? Pagi-pagi sudah tampak repot,” sapa Mutmainah ramah, berusaha meredam senyum geli melihat gaya tetangganya itu.
​”Repot banget, Bu Guru! Bayangkan, kemarin si Robin pulang-pulang ngadu, katanya gara-gara si Abidillah, dia dimarahi ustad di pengajian sore! Duh, anak saya itu kan perasa, hatinya lembut seperti kapas, kok ya dibanding-bandingkan sama si Abidillah itu terus! Mentang-mentang Abidillah anak emas Kiyayi Sardjaya, terus anak saya disudutkan? Padahal ya, Bu, kalau saya lihat-lihat, muka saya waktu muda itu mirip artis sinetron loh, makanya anak saya juga nurun gantengnya…” celoteh Bu Emeh panjang lebar sambil mengibaskan tangan, sibuk memuji diri sendiri.

​Mutmainah menghela napas sabar. Ia tahu betul duduk perkaranya. Robin bukan didzolimi, melainkan ketahuan mencuri mangga di halaman surau lalu kabur saat ditegur oleh Ang Abidillah, siswa kelas 2 yang terkenal cerdas, rajin, disiplin, dan taat beribadah.
​”Bu Emeh, kemarin itu…” Mutmainah mencoba meluruskan, tapi langsung dipotong.
​”Ah, sudahlah, Bu Guru! Pokoknya saya tidak terima kalau nilai agama si Robin jelek gara-gara kalah saing sama Abidillah. Nanti saya mau adukan ini langsung ke Kiyayi Sardjaya! Biar beliau tahu cucunya itu kadang sok suci!” tandas Bu Emeh dengan nada tinggi, lalu ngeloyor pergi begitu saja sambil merapikan letak kerudungnya di depan kaca spion motor guru yang parkir di dekat pintu.

​Mutmainah hanya bisa menggelengkan kepala. Badai kecil bernama Bu Emeh memang selalu datang menghiasi hari-harinya di sekolah itu.
​Beberapa jam kemudian, jam istirahat berbunyi. Di ruang kelas 2, suasana jauh lebih damai. Ang Abidillah duduk rapi di bangku deretan depan. Di atas meja kayunya yang bersih, tersusun rapi buku tulis dan sebuah Al-Qur’an kecil berkover hijau.
​Saat teman-temannya berlarian ke halaman untuk bermain kelereng atau ke kantin, Abidillah memilih menghafal beberapa surat pendek. Sifatnya yang disiplin dan rajin membuat Mutmainah, yang sesekali melintas di depan kelas, merasa sejuk melihatnya. Anak seusia delapan tahun itu sudah terbiasa menjaga wudu dan salat duha tepat waktu, didikan langsung dari kakeknya, Kiyayi Sardjaya, ulama sepuh yang disegani di Sumur Batu.

​”Abidillah,” panggil Mutmainah lembut saat masuk ke kelas.
​Abidillah segera menutup bukunya, merapikan letak kopiah putih di kepalanya, lalu berdiri dan mencium tangan Bu Guru dengan takzim. “Ya, Bu Guru?”
​”Tadi ibunya Robin datang ke sekolah. Katanya kamu bikin Robin menangis di pengajian kemarin. Ada apa, Nak?” tanya Mutmainah penasaran.
​Abidillah menunduk sejenak, lalu menatap Mutmainah dengan sorot mata jernih tanpa kebencian. “Kemarin sore, Robin mau mengambil sandal milik Kiyayi kakek saya di teras surau, Bu. Terus mau disembunyikan ke semak-semak. Saya cuma bilang, ‘Robin, jangan begitu, itu sandal orang tua, tidak baik.’ Saya tidak membentak, Bu Guru. Cuma mengingatkan saja. Tapi Robin keburu lari karena kaget.”

​Mutmainah tersenyum hangat. Ia tahu Abidillah tidak mungkin berbohong. Anak ini dididik dengan kejujuran yang tinggi. “Baiklah, Nak. Kamu anak pintar. Tetaplah berbuat baik dan jangan patah semangat ya.”
​Sore harinya, sehabis Ashar, Mutmainah sengaja mampir ke kediaman Kiyayi Sardjaya di dekat surau desa. Ia berniat melaporkan kejadian tadi pagi sekaligus bersilaturahmi.

​Sesampainya di sana, Kiyayi Sardjaya yang mengenakan sarung samarinda dan baju koko putih sedang duduk di teras sambil merajut tasbih kayu. Di hadapannya, duduk pula Bu Emeh yang rupanya datang lebih dulu—tampaknya tak sabar ingin melampiaskan unek-uneknya kepada sang kiyayi.
​”—pokoknya begitu, Kiyayi! Cucu Kiyayi itu harusnya diajari jangan terlalu sok pintar di hadapan anak-anak lain. Kasihan si Robin, mentalnya bisa jatuh! Padahal keluarga saya kan juga terpandang di kampung ini…” suara Bu Emeh melengking nyaring, takzimnya hanya dibuat-buat.
​Kiyayi Sardjaya tidak marah.
Wajahnya yang teduh dan dipenuhi jenggot putih tipis justru menyunggingkan senyum tenang. Beliau menyesap teh hangat dari cangkir seng sebelum berucap.
​”Neng Emeh…” suara kiyayi berwibawa namun lembut, membuat Bu Emeh seketika terdiam. “Anak panah tidak akan bisa meluncur jauh jika busurnya tidak ditarik dengan kuat ke belakang. Teguran Abidillah kepada Robin kemarin bukanlah untuk merendahkan, melainkan tarikan busur agar Robin kelak meluncur menjadi anak yang lurus.”

​Mutmainah yang berdiri di gerbang teras ikut mendengarkan dengan takjub.
​”Soal cucu saya, Abidillah,” lanjut Kiyayi Sardjaya, “saya selalu ajarkan dia bahwa ilmu itu seperti air sumur. Semakin dalam ia ditimba dan dibagikan, semakin jernih ia mengalir. Bukan untuk menyombongkan diri. Kalau Neng Emeh khawatir pada Robin, mari kita bimbing bersama-sama. Jangan biarkan gosip dan rasa iri mengeraskan hati anak kita.”

​Bu Emeh menelan ludah. Wajahnya yang tadi berapi-api mendadak pucat, salah tingkah. Skakmat elegan dari sang kiyayi membuatnya tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa mengangguk-angguk kaku, merasa malu sendiri di hadapan Mutmainah dan Kiyayi Sardjaya.
​Matahari perlahan tenggelam di balik deretan pohon kelapa di Cikeusik, menyisakan bias jingga yang indah di langit Sumur Batu.

Di surau kecil itu, dari kejauhan, Mutmainah melihat sesosok anak kecil berpeci putih sedang membereskan sandal-sandal jemaah yang berserakan di teras—merapikannya satu per satu dengan teliti.

​Itu Ang Abidillah. Bocah kecil yang mengajarkan pada seisi desa bahwa kemuliaan tidak diukur dari seberapa banyak orang membicarakan kita, melainkan dari seberapa tulus kita berbuat kebaikan dalam sunyi.
​
Sore itu, sebelum benar-benar meninggalkan halaman surau Kiyayi Sardjaya, pandangan Mutmainah tertuju pada selembar SK pengangkatan usang yang tersimpan di dalam tas kerjanya. Tertulis di sana tahun awal pengabdiannya: 2003.

​Sudah lebih dari dua dekade ia berdiri di depan kelas SDN Sumur Batu 1. Melewati masa-masa pahit sebagai guru honorer bergaji seadanya, hingga kini, di tahun 2026, tatkala teman-teman seangkatannya di kota sudah menikmati kepastian pensiun, takdir garis tangan Mutmainah membawanya memegang status sebagai seorang PPPK Paruh Waktu.

​Bagi sebagian orang, status itu mungkin terasa menggantung. Seringkali ia mendengar keluh kesah sesama guru honorer yang lelah menuntut kejelasan nasib ke kabupaten. Namun, di ruang kelas sederhana berlantai ubin semen itu, di hadapan anak-anak seperti Ang Abidillah yang mencium tangannya dengan takzim setiap pagi, segala kekecewaan itu mendadak menguap.

​”Bu Guru melamun?” suara renyah Abidillah membuyarkan lamunannya. Bocah itu berdiri di dekat pagar surau, merapikan tali tasnya.

​Mutmainah tersenyum tipis, lalu mengusap kepala berpeci putih itu lembut. “Tidak, Nak. Bu Guru hanya sedang bersyukur.”
​”Bersyukur untuk apa, Bu?” tanya Abidillah polos.

​”Bersyukur karena tulusnya ilmu tidak pernah diukur dari apa sebutan jabatan kita di atas kertas, Abidillah. Tapi dari seberapa ikhlas kita menanam kebaikan di tanah Sumur Batu ini.”

​Abidillah mengangguk meski belum sepenuhnya mengerti. Sementara di kejauhan, matahari Cikeusik perlahan tenggelam, meninggalkan kehangatan yang meresap ke dalam sanubari—menemani langkah seorang guru sabar yang terus mendedikasikan hidupnya tanpa lelah, melintasi batas tahun dan ruang kelas.

​~~~S E K I A N~~~