Penulis : A.A.HaqFaris (Aang Faris)
__________Pagi itu, kabut tipis masih membungkus Desa Subang Batu. Di halaman SDN Subang Batu, Neng Emut, seorang guru SD yang dikenal tekun dan sangat peduli pada murid-muridnya, mengamati anak-anak didiknya yang tampak lesu.
Sebagai guru, Neng Emut tahu betul bahwa gizi buruk dan stunting adalah ancaman nyata bagi masa depan anak-anak di desanya. Banyak ibu hamil dan keluarga kurang mampu di sana mengandalkan beras fortifikasi bernutrisi untuk pemenuhan gizi harian.
Namun, beberapa bulan terakhir, keresahan melanda warga desa. Hasil panen petani sering gagal, pupuk tak mempan, dan beras berlabel fortifikasi yang dibeli warga dari platform online harganya melambung tinggi hingga Rp57.000 per kilogram padahal harga normalnya tak sampai seperempatnya. Bukannya menjadi sehat, anak-anak justru makin lemas, dan para petani terjerat utang.
”Ada yang tidak beres di desa kita,” gumam Neng Emut. Ia memutuskan untuk menemui dua tokoh yang sangat dihormatinya: Ang Faris, S.H., M.H., seorang pemerhati lingkungan dan aktivis hukum yang tak kenal takut, serta Kiyai Sardaja, tokoh ulama kharismatik yang disegani warga.
Di teras pesantren, Kiyai Sardaja mendengarkan aduan Neng Emut dengan wajah teduh namun tegas. “Kezaliman terhadap urusan perut dan kesehatan rakyat kecil adalah dosa besar. Agama melarang keras penipuan dan kezaliman semacam ini,” ujar Kiyai Sardaja sambil memegang tasbihnya.
Ang Faris langsung merespons cepat. “Saya sudah melacak alur distribusinya, Neng, Kiyai. Ini bukan sekadar pedagang eceran nakal. Ada sindikat perdagangan online raksasa di baliknya. Tokoh utamanya adalah Murad dan Bukhari.”
Murad dan Bukhari adalah otak di balik jaringan mafia pangan digital. Dari balik layar gawai, mereka memasarkan bibit padi tak bersertifikasi, pupuk palsu, dan obat-obatan pertanian ilegal yang merusak tanah petani.
Tak berhenti di situ, mereka menunggangi program nasional beras fortifikasi. Beras biasa kemasan polos mereka poles dengan kemasan mentereng, lalu dijual secara online dengan klaim kaya vitamin untuk cegah stunting, demi mengeruk keuntungan berlipat ganda dan meloloskan diri dari Harga Eceran Tertinggi (HET).
Atas inisiatif Ang Faris dan didukung imbauan Kiyai Sardaja kepada masyarakat agar tak tergiur produk palsu, Neng Emut mengumpulkan sampel beras dan bibit yang beredar di Subang Batu. Ang Faris membawa sampel tersebut untuk diuji secara komprehensif.
Langkah mereka bertepatan dengan gelombang besar aksi Satgas Pangan pusat. Jagat raya gempar ketika Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman, membongkar skandal mafia beras fortifikasi.
Hasil laboratorium dari empat lembaga kredibel—IPB, BRMP, Saraswanti, dan Eurofins—membuktikan bahwa 25 merek beras fortifikasi palsu (termasuk yang dijual jaringan Murad dan Bukhari) sama sekali tidak mengandung kandungan vitamin sesuai SNI 9314:2024 dan SNI 9372:2025. Vitamin yang diklaim di label ternyata nihil!
Kerugian konsumen secara nasional bahkan menembus angka fantastis Rp89 Triliun. Mentan Amran bergerak cepat mencabut izin edar secara permanen dan menyurati Kapolri untuk mengusut tuntas ranah hukumnya.
Mendengar kabar pembongkaran besar-besaran tersebut, Ang Faris bergerak cepat bersama aparat kepolisian setempat. Jaringan bisnis ilegal milik Murad dan Bukhari digerebek. Bukti-bukti berupa ribuan kemasan beras fortifikasi abal-abal, pupuk ilegal, serta bibit padi palsu disita. Murad dan Bukhari tak berkutik saat digiring petugas dengan tangan terborgol.
Kini, kebenaran telah terungkap. Bulog segera turun tangan menyalurkan beras resmi dan aman ke ritel-ritel desa untuk memastikan pasokan pangan warga kembali pulih.
Di halaman sekolah, Neng Emut tersenyum lega melihat senyum ceria anak-anak usianya yang kembali bermain aktif.
Bersama Ang Faris yang terus mengawal kelestarian lingkungan dan Kiyai Sardaja yang tak henti membimbing moral masyarakat, Desa Subang Batu kini bangkit, terbebas dari jeratan mafia pangan yang serakah.
_____T A M A T____
















