Amaki Desak Jenderal Agus Copot Kalapas Warungkiara..!!

SUKABUMI, CNC MEDIA — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Warungkiara kembali menjadi sorotan publik. Berbagai dugaan permasalahan mencuat ke permukaan, menimbulkan kritik tajam dari kalangan mahasiswa, aktivis, hingga aliansi masyarakat sipil.

Aliansi Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (AMAKI) melalui Presidium Paiman Tamim menyoroti kinerja dan citra Kepala Lapas Warungkiara. Menurutnya, banyaknya kritik publik menunjukkan adanya ketidakberesan di dalam lembaga tersebut. “Tidak mungkin publik melayangkan kritik tajam tanpa sebab,” tegas Paiman kepada awak media. Senin (15/12/2025).

Ia menekankan bahwa Lapas seharusnya menjadi tempat pembinaan bagi narapidana agar dapat kembali ke masyarakat dengan lebih baik setelah menjalani hukuman. Namun, keluhan publik terkait sistem dan pelayanan di Warungkiara justru semakin meningkat.

AMAKI menilai kondisi ini perlu mendapat perhatian serius dari Kementerian Hukum dan HAM RI serta Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. “Jika tidak segera disikapi, gejolak publik dikhawatirkan akan semakin besar dan melebar,” ujar Paiman.

Lebih lanjut, AMAKI mendesak Jenderal Pol (Purn) Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H. untuk segera bertindak tegas dengan mencopot dan memeriksa Kepala Lapas Warungkiara. Aliansi bahkan mengancam akan menggelar aksi di kementerian sambil membawa bukti digital dari berbagai media mengenai keluhan masyarakat.

Beberapa dugaan yang disoroti antara lain:
– Indikasi pungutan liar di lingkungan Lapas.
– Dugaan peternakan sapi tanpa izin AMDAL yang disebut diakui langsung oleh pihak Lapas.
– Pertanyaan mengenai status lahan yang digunakan Lapas, yang disebut berada di atas tanah HGU.

AMAKI juga menyoroti sikap Kepala Lapas yang dianggap membesarkan ego sebagai pejabat publik. Dugaan pelaporan yang dilakukan pihak Lapas terhadap sejumlah pihak disebut hanya fitnah belaka.

“Kalapas memiliki ego yang tinggi dan tidak layak sebagai pejabat publik. Seharusnya ia menjadi pelayan masyarakat, bukan anti kritik dan mudah tempramen, apalagi sampai melaporkan kejadian yang belum tentu kebenarannya,” tandas Paiman. (Red-CNC)