LEBAK, CNC MEDIA– Teriakan kecil menawarkan nasi uduk terdengar memecah suasana pagi di Kampung Cikarang, Desa Karangpamidangan, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten. Suara itu berasal dari Intan Aulia (7) bersama kakaknya, Vindi Aulia (12), yang berkeliling kampung menjajakan nasi uduk buatan sang nenek.
Pemandangan sederhana tersebut menyimpan kisah perjuangan yang mengundang rasa haru. Di saat sebagian anak seusia mereka masih menikmati waktu pagi bersama keluarga, Vindi dan Intan justru sudah lebih dahulu menyusuri jalanan kampung demi membantu meringankan beban sang nenek.
Setiap pagi, sekitar pukul 06.00 WIB, keduanya mulai menawarkan nasi uduk kepada warga. Waktu mereka tidak banyak. Sekitar 45 menit kemudian, keduanya harus kembali ke rumah untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah.
Di balik perjuangan kecil itu, tersimpan kisah keluarga yang tidak mudah. Ayah mereka telah meninggal dunia, sementara sang ibu harus bekerja sebagai tenaga migran di luar negeri demi mencari nafkah.
Dalam kondisi tersebut, sang nenek menjadi sosok yang merawat dan mendampingi kedua cucunya. Dengan cara sederhana, Vindi dan Intan berusaha ikut membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari melalui hasil penjualan nasi uduk.
Meski masih berusia anak-anak, semangat keduanya untuk membantu keluarga menjadi gambaran ketegaran dan kasih sayang yang begitu besar. Mereka tetap menjalankan kewajiban sebagai pelajar, meskipun sebelum berangkat sekolah harus menyempatkan diri membantu sang nenek berjualan.
Kisah Vindi dan Intan menjadi pengingat bahwa di balik kehidupan sederhana masyarakat, ada perjuangan yang terkadang luput dari perhatian. Ada anak-anak yang sejak pagi sudah belajar tentang arti tanggung jawab, pengorbanan, dan kasih sayang kepada keluarga.
Semoga perjuangan kedua kakak beradik ini mendapat perhatian dan mengetuk hati banyak pihak untuk turut memberikan dukungan, agar mereka tetap bisa menikmati masa kecil, memperoleh pendidikan yang layak, serta meraih cita-cita di masa depan.
(Ahen CNC)
















