LEBAK, CNC MEDIA – Menjelang Lebaran Idul Fitri 1446 H, perbaikan ruas jalan nasional III Simpang (Malingping) – Bayah kembali dilakukan. Namun, warga mengkhawatirkan kualitas hasil perbaikan, yang mereka yakini tidak akan bertahan lama.
Hal ini lantaran diduga hotmix yang digunakan sudah dingin, kering, dan tidak lengket. Ditambah lagi, kondisi badan jalan yang basah akibat genangan air hujan memperburuk kualitas perbaikan. Selain itu, sejumlah titik perbaikan dianggap asal-asalan, di mana bekas material jalan yang berlubang tidak dibuang terlebih dahulu, tetapi langsung ditimpa dengan hotmix.
“Saya perhatikan jalan yang ditambal itu tidak dibuang dulu bekasnya tapi langsung ditimpa dengan hotmix, padahal jalan yang ditambal itu dalam dan lebar,” ujar seorang warga Desa Pagelaran yang berada di sekitar lokasi perbaikan.
Ruas jalan nasional III Simpang (Malingping) – Bayah sebelumnya sempat diperbaiki, tetapi banyak titik tambalan yang mengelupas dan retak hanya beberapa hari setelah pengerjaan. Kondisi ini kembali menuai kritik dari warga yang merasa kecewa terhadap kualitas perbaikan jalan.
Sebelumnya, sejumlah aktivis dari selatan Kabupaten Lebak menggelar aksi unjuk rasa di pertigaan jalan nasional III Simpang – Bayah di Kampung Simpang, Kecamatan Malingping, pada Senin (30/12/2024). Aktivis dari berbagai organisasi seperti LSM Harimau, AMBAS, Ormas LMPI, HIMAKOM, KNPI Malingping, dan Pokrol Bambu menuntut agar jalan tersebut segera diperbaiki karena sering menjadi penyebab kecelakaan.
Fatihan Nafs Al Quds, aktivis mahasiswa dari PMII UNMA Banten Malingping, menyampaikan kritiknya kepada pelaksana proyek agar memastikan kualitas kekuatan material yang digunakan sesuai dengan standar yang ditentukan.
“Pelaksana proyek harus tanggung jawab dan memperhatikan kualitas dan kekuatan jalan. Masa baru diperbaiki sudah mengelupas dan retak-retak lagi,” ujar Fatih pada Senin (24/03/2025).
Fatih juga menegaskan pentingnya tanggung jawab moral dari pihak berkompeten untuk memastikan proyek tidak asal-asalan. Ia meminta pejabat terkait untuk tidak hanya menerima laporan di atas kertas, tetapi juga melakukan pengecekan langsung ke lapangan.
“Proyek itu dibiayai oleh uang rakyat. Jangan hanya menyerap anggaran tanpa memperhatikan kualitas. Jangan jadikan faktor alam atau overtonase kendaraan sebagai alasan menghindari pertanggungjawaban,” ungkapnya.
Fatih menyatakan bahwa jika dalam waktu dekat jalan nasional III kembali rusak, ia bersama aktivis lainnya akan mempertanyakan penggunaan anggaran perbaikan kepada pemerintah, khususnya PUPR.
“Tidak menutup kemungkinan kami akan melakukan aksi, audiensi, atau meminta RDP dengan pihak terkait untuk meminta penjelasan dan mengaudit penggunaan anggaran melalui lembaga independen,” tandasnya.
Hingga berita ini ditulis, belum diketahui pihak yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan perbaikan jalan nasional III ruas Simpang (Malingping) – Bayah tersebut. (Red-CNC)
















