LEBAK, CNC MEDIA – Bagi pencinta sepak bola lokal di Kecamatan Maja, Kabupaten Lebak, bahkan hingga ke jantung ibu kota Jakarta, nama Kusima bukan sekadar klub remaja biasa. Pada era 1980–1990, Kusima menjadi wadah mimpi Keluarga Siswa Maja (KUSIMA) sekaligus simbol kejayaan sepak bola daerah. Selasa (7/7/2026).
Masa Kejayaan Kusima
Pada masa itu, Kabupaten Lebak masih berada di bawah Provinsi Jawa Barat sebelum kemudian menjadi bagian dari Provinsi Banten. Kejayaan Kusima di era 80-an turut ditopang oleh Dewan Penasehat seperti Drs. Apip Almujani, Cecep SH, dan Iing Indra Jaya. Nama-nama reporter legenda seperti Ujang Faturohman dan Rohmat juga tercatat dalam perjalanan sejarah klub ini.
Pemain Senior Kusima
Di antara deretan pemain senior, tercatat nama-nama seperti:
– Noldi Aquar (Penjaga Gawang)
– Yanto Tugianto (Penjaga Gawang)
– Ade Lumampas
– Endang Dorek
– Adin
– Dendi Sudendi
– Aning
– Robet Amisusanto
– Aryana
– Lomri
– Heri Kiswanto
– Tenda Subekti
– Ujang Taryana, dan lainnya.
Pemain Junior Kusima
Generasi junior juga turut berkiprah, di antaranya:
– Yanto Tugianto (PG)
– Yanto Suseno (PG)
– Yuyun Patimura
– Enut Marico
– Ohel
– Tenda Subekti
– Ujang Taryana
– Ohmat
– Dedi
– Uko
– Lomri
– Aryana
– Aman
– Dikdik
– Ade Lumampas, dan masih banyak lagi.
Benteng Pertahanan Kusima
Di jantung pertahanan Kusima berdiri dua penjaga gawang remaja: Noldi Aquar dan Yanto Tugianto. Keduanya dikenal tak kenal lelah berjibaku demi menjaga marwah Kusima.
Mantan penjaga gawang era 80-an, Yanto Tugianto, mengenang, “Menjadi seorang penjaga gawang di usia remaja bukanlah tugas mudah. Kulit lutut yang terkelupas karena lapangan tanah keras dan kaki yang sering terkilir menjadi kenangan sambil tersenyum. Namun semua itu tidak menjadi halangan, tetap fokus mempertahankan gawang dari serangan lawan.”
Salah satu momen paling berkesan adalah laga final turnamen mempertahankan juara. Kusima kala itu berhadapan dengan tim tangguh berisi striker-striker bertubuh besar.
Dengan penyelamatan diving save berulang kali, komunikasi lantang, dan semangat pantang menyerah, pertahanan Kusima tetap kokoh. Pertandingan berakhir imbang dan dilanjutkan ke adu penalti.
– Tendangan pertama lawan: berhasil ditepis ke samping.
– Tendangan kedua: diblok dengan kaki.
– Tendangan berikutnya: terbaca dengan tenang.
Kusima Maja akhirnya keluar sebagai juara, dan sang kiper remaja digotong di atas pundak rekan-rekan setimnya malam itu.
Menurut Yanto, menjadi penjaga gawang mengajarkan tanggung jawab besar: satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal, namun bangkit dengan cepat adalah satu-satunya pilihan.
“Kenangan masa remaja bersama Kusima bukan hanya tentang piala atau kemenangan, melainkan tentang keberanian berdiri teguh sendirian di garis gawang menghadapi setiap tantangan,” tuturnya.
Ia berharap pengalaman legendaris Kusima tahun 80-an menjadi bahan evaluasi dan edukasi bagi Kusima di era 2026. Secara organisasi, “Kusima harus lebih terorganisir dan tampil lebih cemerlang demi meraih prestasi dan juara,” pungkas Yanto, mantan penjaga gawang Kusima. (Yanto-CNC)













