PANDEGLANG, CNC MEDIA – Ucapan Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pandeglang, Lukman, yang menyebut aksi ribuan guru honorer madrasah ke Istana Negara sebagai hal yang “bikin repot pemerintah” menuai kecaman keras dari kalangan guru madrasah.
Pengurus organisasi Persatuan Guru Inpassing Nasional (PGIN) dan Madrasah Development Center (MDC) Banten menilai pernyataan tersebut menunjukkan sikap arogan dan tidak berempati terhadap perjuangan para guru madrasah yang selama ini mengabdi tanpa kepastian status dan kesejahteraan.
Sekretaris Pengurus Besar PGIN, Deni Subhani, menilai pernyataan Kepala Kemenag Pandeglang itu mencerminkan ketidakpekaan seorang pejabat publik terhadap realitas di lapangan.
“Kami sangat menyayangkan pernyataan pejabat seperti itu. Dari sini saja kita bisa menilai bahwa Kepala Kemenag Pandeglang adalah sosok pejabat yang tidak memiliki empati dan lebih mementingkan kepentingan pribadi serta kelompoknya,” tegas Deni melalui sambungan telepon. Jumat (31/10/2025).
Deni menegaskan, aksi ribuan guru madrasah ke Istana Negara merupakan bentuk perjuangan moral untuk menuntut keadilan dan pengakuan dari pemerintah.
Ia berharap pernyataan yang merendahkan perjuangan guru tidak lagi keluar dari pejabat publik, terutama dari instansi yang seharusnya menaungi para pendidik.
Sementara itu, Kepala Kemenag Pandeglang, Lukman, mengaku tidak mengetahui adanya rencana aksi tersebut sebelum para guru berangkat ke Jakarta.
“Tidak tahu saya sebelumnya, hanya saja ada laporan dari pak Kasi kalau guru-guru akan demo ke Jakarta,” ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon.
Lukman menambahkan, dirinya sempat meminta agar aksi tersebut dibatalkan karena dianggap dapat merepotkan pihak pemerintah.
“Saya juga menyampaikan kepada pak Kasi, ‘udah gak usah, bikin repot pemerintah aja’. Tapi kata pak Kasi, mereka sudah di sana,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut memicu kemarahan para guru madrasah yang menilai ucapan itu meremehkan perjuangan mereka. Sejumlah guru yang ikut aksi di Jakarta menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan sang pejabat.
Salah satu guru madrasah asal Pandeglang, Siti Nurjanah, mengaku sedih mendengar ucapan tersebut.
“Kami ke Jakarta bukan untuk bikin repot, tapi memperjuangkan hak kami sebagai guru madrasah. Kami ini sudah puluhan tahun mengabdi, tapi kesejahteraan belum juga jelas,”
ujarnya dengan nada kecewa.
Guru lainnya, Ahmad Fauzi, menyebut pernyataan itu justru semakin menambah luka bagi para pendidik madrasah.
“Kami hanya ingin pemerintah mendengar suara kami. Kalau pejabat bilang kami bikin repot, artinya mereka tidak paham penderitaan kami di lapangan,”
katanya.
Para guru berharap, pejabat publik lebih bijak dalam berkomentar dan mampu menjadi penyambung aspirasi para pendidik, bukan justru seolah menutup mata terhadap perjuangan mereka. (Ahen-CNC)
















