Air Hitam, Udang Mati: Tragedi Ciujung yang Dilupakan

SERANG, CNC MEDIA – Sungai Ciujung yang membelah Kabupaten Serang dan Lebak dahulu dikenal sebagai sumber kehidupan. Kini, bagi petani dan nelayan di bantaran sungai, Ciujung justru menjadi sumber penderitaan yang tak kunjung usai.

Pantauan di lapangan, Selasa 7 Juli 2026, kondisi Sungai Ciujung di wilayah hilir Kecamatan Pontang, Tirtayasa, dan Tanara tampak memprihatinkan. Saat musim kemarau, air sungai berubah hitam pekat dan berbau limbah.

Petani Tambak Gagal Panen
Acing (45), nelayan sekaligus petani tambak asal Desa Tengkurak, Tirtayasa, mengaku setiap musim tambak selalu gagal panen. Selama enam bulan terakhir, udang alam di empang mati total. Intrusi air laut, pendangkalan sungai, serta limbah industri disebut warga sebagai penyebab utama kerusakan ekosistem Ciujung.

Nelayan Muara Merugi, Ikan Kian Langka
Para nelayan di muara Ciujung wilayah Tirtayasa, Tanara, dan Pontang juga mengeluhkan hasil tangkapan yang semakin menurun. “Jala tiga jam dapatnya plastik. Ikan bandeng dan udang sudah tidak seperti dulu. Airnya hitam, baunya limbah. Melaut sekarang rugi di solar,” ungkap Kang Acing, nelayan setempat.

Warga menduga pencemaran limbah industri di hulu serta alih fungsi lahan resapan memperparah kondisi sungai.

Harapan Warga: Ciujung Kembali Bersih
Masyarakat berharap ada penanganan serius dan berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sesaat. “Jangan cuma dikasih pompa kalau airnya tetap asin. Jangan cuma dikasih tanggul kalau tiap hujan jebol lagi. Kami butuh Ciujung kembali bersih,” kata seorang warga.

Hingga kini, limbah masih mengalir di Sungai Ciujung. Harapan petani dan nelayan untuk hidup layak di tepiannya pun masih terombang-ambing. (Wahyu-CNC)