LEBAK, CNC MEDIA — Jalan penghubung tiga desa di Kecamatan Muncang kembali menjadi sorotan. Di tengah gencarnya slogan pembangunan dan janji pemerataan infrastruktur, Pemerintah Kabupaten Lebak dinilai menutup mata terhadap kondisi jalan poros Tanjung Wangi – Pasir Nangka – Pasir Eurih yang hingga kini masih rusak parah, Jumat (8/5/2026).
Kepala Desa Tanjung Wangi mengungkapkan, usulan perbaikan jalan tersebut bukan sekali dua kali disampaikan. Sejak tahun 2023 hingga 2026, persoalan itu terus diangkat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), namun hasilnya tetap sebatas janji tanpa realisasi.
“Sudah tiga kali Musrenbang dari 2023 sampai 2026 kami usulkan. Jalan poros penghubung tiga desa terus kami keluhkan, tapi sampai sekarang belum ada tanggapan nyata dari Pemda Lebak,” ujarnya.
Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari mendatangi kantor bupati, menyampaikan proposal ke pemerintah kabupaten, hingga membawa permohonan ke tingkat Provinsi Banten melalui Ketua Lembaga Desa Bersatu, Jaro Erus, dengan harapan mendapat perhatian Gubernur Banten Andra Soni. Namun ironisnya, jalan yang menjadi akses utama masyarakat dan pelajar menuju SMAN 2 Muncang itu masih dibiarkan rusak parah.
“Kami sudah berupaya sampai ke provinsi. Proposal permohonan juga sudah disampaikan melalui Ketua APDESI Kabupaten untuk disampaikan kepada Gubernur Banten. Tapi faktanya jalan ini masih seperti itu, tidak ada respon nyata,” tegasnya.
Kerusakan jalan tersebut kini berdampak serius terhadap dunia pendidikan. Dengan sistem zonasi sekolah, banyak siswa dan orang tua enggan memilih SMAN 2 Muncang lantaran akses jalan yang sulit dilalui, terutama saat musim hujan.
“Jangankan warga luar, warga sekitar saja banyak yang enggan masuk ke SMAN 2 Muncang karena akses jalannya rusak. Ini sangat memprihatinkan,” katanya.
Tak sedikit calon siswa akhirnya memilih sekolah ke wilayah Leuwidamar setelah gagal masuk SMAN Muncang karena keterbatasan kuota dan sulitnya akses menuju sekolah.
Di sisi lain, masyarakat juga menyoroti janji politik yang sempat dilontarkan saat masa kampanye. Jalan poros tiga desa itu disebut pernah dijadikan bahan janji oleh tim pemenangan Ega–Epul, namun hingga kini belum ada bukti nyata di lapangan.
“Dulu saat kampanye, jalan ini dijanjikan akan diperbaiki. Tapi sekarang masyarakat hanya bisa melihat jalan rusak dan batu tajam yang membahayakan anak-anak berangkat sekolah,” pungkas Darja.
Sementara itu, Ojak, warga Kampung Mekar Tanjung, Desa Tanjung Wangi, menuturkan kondisi jalan rusak sudah lama dikeluhkan masyarakat.
“Kalau musim hujan jalan jadi becek dan licin, batu besar tajam bikin kendaraan sering jatuh. Kasihan anak-anak sekolah yang setiap hari harus lewat sini. Kami hanya ingin jalan ini segera diperbaiki supaya aktivitas lancar dan anak-anak nyaman berangkat sekolah,” ujarnya.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Lebak maupun Pemerintah Provinsi Banten tidak hanya hadir saat masa kampanye, tetapi benar-benar merealisasikan pembangunan.
Kondisi ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah, sebab di tengah berbagai seremoni pembangunan, masih ada wilayah yang harus berjibaku dengan jalan rusak demi mengakses pendidikan dan aktivitas sehari-hari. (Day-CNC)















