LEBAK, CNC MEDIA – Gelombang kehebohan melanda jagat maya setelah viral sebuah video di media sosial TikTok yang menampilkan pengakuan seorang perempuan berinisial IF. Dalam video tersebut, IF menyampaikan bahwa dirinya pernah diperlakukan tidak pantas oleh seorang tokoh Banten berinisial AS. Ia mengaku diperlakukan layaknya hubungan suami istri di sebuah hotel kawasan Bandung sekitar dua tahun lalu.
Kasus ini sontak menjadi perhatian publik, bukan hanya karena menyangkut nama besar seorang tokoh, tetapi juga karena AS disebut-sebut sebagai pemimpin Banten yang memiliki pengaruh besar terhadap arah pembangunan daerah.
Ketua Umum Ormas Badak Banten Perjuangan, Eli Sahroni atau yang akrab disapa King Badak, menilai kasus ini sebagai musibah besar yang mencoreng nama baik Banten. Menurutnya, benar atau tidaknya pengakuan IF tetap menjadi preseden buruk bagi masyarakat Banten.
“AS bukan hanya tokoh, melainkan pemimpin Banten yang memegang kendali maju mundurnya daerah. Jika pemimpin terjerat isu akhlak, maka kehormatan Banten ikut tercoreng,” ujar King Badak dalam keterangannya, Sabtu (11/7/2026).
King Badak menegaskan bahwa seluruh pejabat maupun masyarakat biasa harus menghindari sikap tidak terpuji. Ia menekankan pentingnya akhlak sebagai fondasi peradaban.
“Sekecil apapun pejabat ataupun orang biasa harus menghindari sikap yang tidak terpuji, apalagi seorang pemimpin daerah baik di lingkungan bawah ataupun atas. Hancurnya akhlak maka hancurlah peradaban. Bila Banten memiliki pemimpin yang akhlaknya rusak, maka Banten yang religius dan agamis akan dipimpin oleh manusia rusak moral,” tegasnya.
Kasus dugaan pelecehan ini tidak hanya menimbulkan kegaduhan di media sosial, tetapi juga berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan daerah. Banten yang dikenal sebagai wilayah religius dan agamis, menurut King Badak, harus dijaga dari perilaku yang merusak moralitas.
Ia menyerukan agar masyarakat tetap kritis dan tidak mudah terbuai oleh figur pemimpin yang kehilangan akhlak. “Banten harus berakhlak. Kehormatan daerah bukan hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh moralitas pemimpin dan masyarakatnya,” tambahnya.
Kasus ini masih menjadi perbincangan hangat di ruang publik. Apapun hasil klarifikasi dan proses hukum yang mungkin menyusul, seruan King Badak menjadi pengingat bahwa akhlak adalah pondasi utama dalam kepemimpinan. Tanpa akhlak, pembangunan dan peradaban akan kehilangan arah. (Red-CNC)















