Ini Alasan Ilmiah Pakar Antropolog Jerman, Kuntilanak Berkelamin Perempuan, Ternyata…

banner 120x600

Jakarta, CNC MEDIA.- Seorang antropolog Jerman, Timo Duile telah mengungkap sejarah tentang kuntilanak yang dianggap oleh sebagian masyarakat Indonesia sebagai salah satu hantu perempuan menakutkan.

Timo Duile mengungkap kuntilanak kerap digambarkan sebagai perempuan karena perannya sebagai penghubung dunia nyata dengan ‘ruh’ di era animisme.

Tak cuma dalam film dan cerita horor, ‘jenis kelamin’ kuntilanak juga disinggung Timo Duile, antropolog dari Departemen Kajian Asia Tenggara di Bonn University, Jerman, dalam studi berjudul ‘Kuntilanak Ghost Narratives and Malay Modernity in Pontianak, Indonesia‘.

Timo menuturkan bahwa kuntilanak tidak hanya menjadi ikon budaya di Indonesia saja, tetapi juga dikenal di beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, serta bagian selatan Filipina dan Thailand.

Di negara Malaysia dan Singapura, kuntilanak disebut Pontianak, yakni perempuan dengan ciri-ciri seperti vampir: tertarik dengan darah dan berbahaya bagi wanita yang melahirkan.

Sebagai mayat hidup, dia mengancam yang hidup karena dia tidak dapat menemukan kedamaian. Dia memakai pakaian putih dan konon dia biasanya tinggal di bawah pohon atau di hutan.

Kuntilanak Memiliki Kaitan dengan Kota Pontianak

Menurutnya, pendirian kota Pontianak, Kalimantan Barat, bermula dari kedatangan bangsawan keturunan Arab, Syarif Abdurrahim, pada 1771.

Syarif, katanya, diberi tanah di pertemuan sungai-sungai besar di dekat delta Sungai Kapuas, lokasi strategis jalur perdagangan utama untuk mengangkut barang dari pedalaman pulau. Masalahnya, delta itu merupakan markas para perompak.

Dia pun bertugas menjadikan kota ini sebagai benteng melawan para perompak (Hasanuddin 2014:21-2).

Tantangan lainnya adalah kondisi Pontianak yang masih berupa rawa-rawa dan hutan lebat.

Maka tak heran ada yang mengklaim bahwa nama ‘Pontianak’ berasal dari bahasa Melayu ‘pon ti’ (pohon tinggi) (Asma 2013:xxxiii).

Hal ini sejalan dengan interpretasi narasi Kuntilanak; pohon tinggi sering diasosiasikan dengan arwah di pedesaan Kalimantan Barat.

Senada, buku ‘Pontianak heritage dan beberapa yang berciri khas Pontianak’, nama Pontianak berasal dari hantu Kuntilanak, atau hantu perempuan, yang diklaim banyak di pertemuan Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak.

“Cerita bermula saat rombongan Syarif Abdurrahim tiba di kawasan itu. Mereka melihat banyak gangguan dan suara yang menakutkan. Gangguan tersebut dianggap sebagai hantu jahat, sebagai hantu Kuntilanak, dan membuat takut orang-orang di atas perahu,” dikutip dari buku tersebut.

“Keesokan harinya, mereka tidak melanjutkan perjalanan […]. Maka, sebagai alat pengusir hantu, Syarif Abdurrahim menembakkan meriam.”

Sebuah Mitos dan Modus untuk Kemajuan Pemikiran

Timo juga mengemukakan, bahwa narasi tentang kuntilanak adalah mitos dan modus ‘pencerahan dalam arti luas’, yaitu sebagai ‘kemajuan pemikiran’.

Tujuannya adalah untuk membebaskan manusia dan menempatkan mereka sebagai penguasa.

Menurut Timo, narasi kuntilanak adalah konstitutif bagi konsepsi diri kemelayuan modern sebagai identitas Islam yang beradab, sebagai masyarakat madani.

“Dengan demikian, konsep ini kontras dengan alam pedalaman Kalimantan yang liar dan menakutkan. Bukan hanya konsep diri kemelayuan di Pontianak, tetapi juga masyarakat modern dan maju di negara Indonesia, Malaysia, dan Singapura pada umumnya,” terangnya.

Kuntilanak Mewujudkan Dimensi Traumatis

Meski begitu, Timo menekankan bahwa persepsi mitos ini ada konsekuensinya. Sebab, kuntilanak telah mewujudkan dan mempertahankan dimensi traumatis dari masyarakat lain.

Oleh karena itu, ketika berhadapan dengan masyarakat modern dan narasi modern, Timo berpendapat bahwa faktor-faktor seperti agama dan animisme tidak boleh dianggap sebagai kebalikan dari modernitas atau ontologi modern/Barat.

Dukun

Aktivis perempuan Nadya Karima Melati, dalam tulisannya berjudul Monsterisasi Perempuan dan Monoteisme: Sebuah Perspektif Longue Durée di Jurnal Perempuan mengungkap sosok perempuan menyeramkan itu tak lepas dari fenomena kepercayaan masa lalu.

Ia mengutip pendapat antropolog Jeannette Marie Maego and Alan Howard dalam buku Spirits in Culture, History and Mind (1996).

“Menurut mereka, kehadiran monoteisme tidak menghilangkan sosok dan relasi masyarakat dengan roh (spirits) sebagai kepercayaan asli mereka secara total, namun mengubah peran roh dalam masyarakat dan menjadikannya monster/hantu,” tulis Nadya.

Dia, yang menempuh studi sejarah di University of Bonn itu, menuturkan pada masa pra-agama monoteisme perempuan jadi penyambung komunikasi antara roh dan manusia.

“Dalam kepercayaan lokal sebelum kehadiran agama monoteis, roh hidup berdampingan dan saling berkomunikasi. Roh berbeda dengan dewa yang memiliki kekuatan. Roh pada umumnya memiliki berbagai sifat sebagaimana manusia pada umumnya: ada yang baik, ada yang jahat atau ada yang netral,” tuturnya.

“Untuk itu dibutuhkan perantara dari dunia manusia untuk bisa berkomunikasi dengan dunia roh. Perantara tersebut adalah sosok yang sakti seperti perempuan, sebab mereka menstruasi atau sosok dengan identitas harmonis seperti bissu (rohaniawan, red),” lanjut dia.

Nadya menambahkan konsep ketuhanan dalam agama monoteisme seperti Islam dan Kristen merupakan konsep yang “maskulin, menggeser kemudian menghancurkan kepercayaan lokal yang berhubungan dengan roh dan alam.”

“Kehadiran monoteisme menolak adanya sosok spiritual lain selain Tuhan. Monoteisme mengganti peran dewa-dewi menjadi sosok panteon, santa atau manusia super. Sementara roh dengan posisi yang setara manusia bergeser menjadi hantu/monster,” sambung dia.

Monoteisme, tulis Nadya, ikut menggeser makna upacara-upacara kepercayaan yang menggunakan metode komunikasi dengan roh seperti kegiatan yang berhubungan dengan proses transenden menjadi “kesurupan”.

Alhasil, peran perempuan yang sebelumnya sebagai perantara roh berubah menjadi dukun atau penyihir. Pasalnya, perempuan “mampu berkomunikasi dan memerintahkan roh”.

“Perempuan dianggap sebagai sosok yang lemah dan mudah dirasuki oleh roh jahat, atau roh jahat itu berwujud seperti perempuan,” ujar penulis buku ‘Membicarakan Feminisme’ tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *