Aktivis Sebagai Agen Perubahan: Suarakan Kebenaran dan Keadilan, Jangan Takut Intimidasi dan Nyinyiran dari Manusia Kardus

Aktivis Banten, Eli Sahroni (King Badak)

BANTEN, CNC MEDIA — Aktivis memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan kebenaran dan keadilan. Mereka adalah agen perubahan yang berdiri di garis depan dalam memperjuangkan hak-hak rakyat. Intimidasi dan nyinyiran dari pihak yang tidak bertanggung jawab tidak boleh menjadi penghalang dalam perjuangan.

Hal ini disampaikan oleh Aktivis Banten, Eli Sahroni, dalam rilis yang diterima redaksi media pada Minggu (24/8/2025). Ia menegaskan bahwa perjuangan aktivis harus terus digelorakan, meski tantangan datang dari berbagai arah.

“Sekecil apa pun karya kita, itu adalah mutiara dari buah perjuangan. Dengan semangat dan keberanian, kita bisa menciptakan dunia yang lebih baik tempat lahirnya keadilan, kebenaran, dan kesejahteraan yang dirasakan oleh masyarakat,” ujar Eli Sahroni. Minggu (24/8/2025).

Ia juga mengajak para aktivis, khususnya generasi muda, untuk tetap konsisten dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada keadilan.

“Bangkitlah dengan jiwa korsa yang membara, untuk perubahan yang nyata bukan sekadar jembatan kekuasaan. Jadilah pelopor dalam membela kebenaran, pengawal keadilan, dan pembela rakyat. Jangan biarkan semangat perjuangan kita dipadamkan oleh kepentingan pribadi atau kekuasaan,” tegasnya.

Kritik dan Apresiasi: Dua Pilar Aktivisme Profesional

Lebih lanjut, Eli Sahroni menekankan bahwa aktivis tidak hanya bertugas mengkritisi kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat, tetapi juga wajib memberikan apresiasi terhadap keberhasilan pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat.

“Sebagai aktivis profesional, kita tidak hanya fokus pada sisi negatif. Kita juga harus memberikan apresiasi atas keberhasilan pemerintah dalam pembangunan dan pelayanan publik,” katanya.

Menurutnya, kritik yang disampaikan bukanlah bentuk kebencian, melainkan wujud cinta dan kepedulian terhadap bangsa dan pemerintahan.

“Kita mengkritik bukan karena benci, tetapi karena cinta dan kepedulian terhadap mereka yang diberi amanah untuk memimpin,” pungkas Eli Sahroni. (Red-CNC)