LEBAK, CNC MEDIA — Permasalahan kebakaran yang terjadi di wilayah Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Mohamad Iyos Rosyid, S.KPm, M.AP atau yang disapa Bung Yos, akademisi STISIP Banten Raya, menilai persoalan kebakaran tidak hanya perlu ditangani setelah kejadian, tetapi juga harus menjadi perhatian bersama dalam upaya pencegahan dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat.
Menurut Bung Yos, tingginya risiko kebakaran di wilayah perkebunan atau permukiman perlu diantisipasi melalui edukasi kepada masyarakat, peningkatan kesadaran terhadap potensi bahaya kebakaran, serta penguatan koordinasi antara pemerintah, masyarakat, relawan dan pihak terkait. Apalagi saat ini kita mengalami kemarau panjang, sangat rentan terhadap potensi kebakaran, pada Rabu, (9/08/2026).
Kebakaran yang terjadi di Kampung Keusik 3, RT 004/ RW 010, Desa Keusik, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Banten harus menjadi perhatian serius oleh Pemerintah Kabupaten Lebak. Sebab menimbulkan berbagai potensi resiko. Dilihat dari analisis video viral yang beredar di medsos berdurasi 9 detik limbah triplek yang dibuang ke kebun dan berlokasi di pinggir jalan menjadi pemicu awal mula kebakaran. Apalagi dari video kedua yang beredar di media sosial berdurasi 1 menit 56 detik pernyataan masyarakat yang beredar di video api yang muncul merupakan api yang disengaja oleh ulah manusia dengan menggunakan motor.
“Persoalan kebakaran bukan hanya persoalan ketika api sudah muncul. Yang paling penting adalah bagaimana kita membangun sistem pencegahan atau mitigasi dan kesiapsiagaan sejak awal, peran penegak hukum di wilayah Kecamatan Banjarsari sangat penting untuk mengetahui apakah kejadian ini disengaja ataukah tidak, biar proses hukum juga berjalan dengan maksimal” ujar Bung Yos.
Ia menilai pemerintah di tingkat kecamatan maupun desa perlu melakukan pemetaan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran. Selain itu, masyarakat juga perlu mendapatkan edukasi mengenai langkah sederhana untuk mencegah kebakaran, termasuk penggunaan instalasi listrik yang aman, penggunaan peralatan rumah tangga serta penanganan sumber api.
Bung Yos juga menekankan pentingnya kecepatan informasi ketika terjadi kebakaran. Menurutnya, masyarakat harus mengetahui jalur pelaporan dan langkah pertama yang harus dilakukan agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
“Kecepatan informasi sangat penting. Ketika terjadi kebakaran, jangan sampai masyarakat bingung harus menghubungi siapa dan bagaimana melakukan evakuasi. Sistem komunikasi dan koordinasi harus jelas,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan dapat memperkuat mitigasi bencana kebakaran di wilayah Banjarsari. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui sosialisasi, simulasi evakuasi, penyediaan sarana pendukung serta peningkatan kapasitas masyarakat dan relawan.
Bung Yos menambahkan, masyarakat juga memiliki peran strategis dalam mencegah terjadinya kebakaran. Kesadaran kolektif menjadi salah satu kunci agar potensi kebakaran dapat diminimalkan.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Masyarakat harus menjadi bagian dari sistem pencegahan. Kalau kesadaran, koordinasi dan kesiapsiagaan dibangun bersama, risiko kebakaran dapat ditekan,” pungkasnya.
Permasalahan kebakaran di Banjarsari diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di tingkat masyarakat, sehingga keselamatan warga dapat menjadi prioritas utama. (Red-CNC)
















