Penulis: A.A.HaqFaris (Aang Faris)
Aroma seblak, cilok, dan gorengan merambah hampir di setiap sudut Desa Sumber Watu. Dari balik kaca jendela mobilnya, AngFaris, S.H., M.H.I., M.Sc.seorang konsultan hukum sekaligus konsultan bisnis ternama memperhatikan deretan lapak kaki lima yang saling bertumpuk di sepanjang jalan utama.
Di sebelahnya duduk Neng Mutia, pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Sumber Watu yang dikenal peduli pada nasib generasi muda.
”Lihatlah, Mas Faris,” ujar Neng Mutia prihatin. “Satu kilometer ini ada sepuluh penjual seblak dan cilok. Di satu sisi, ini tampak seperti kebangkitan UMKM. Tapi di sisi lain, anak-anak lulusan sekolah di daerah kita makin sulit mencari kerja formal. Akhirnya, terjadilah necessity entrepreneurship mereka jualan bukan karena passion, tapi karena terpaksa agar besok bisa makan.”
AngFaris mengangguk setuju. “Betul, Neng Mutia. Ini fenomena ‘Negara Tepung’. Ada romantisasi yang berbahaya di sini. Kita sering memuji ‘ketangguhan’ rakyat kecil, padahal itu bentuk abainya sistem. Pasar kini mengalami kanibalisme lima pedagang menjual barang yang sama dalam jarak 50 meter. Hasilnya? Perang harga yang menggerus keuntungan semua orang.”
Perjumpaan di Saung Musyawarah
Sore itu, AngFaris dan Neng Mutia menghadiri musyawarah warga di halaman pesantren lokal. Hadir pula Kiyayi Haji Sorara, tokoh ulama berpengaruh yang sangat dihormati masyarakat Sumber Watu.
Di barisan depan, dua pemuda bersemangat Ang Arya dan Ang Abid sedang memaparkan peta jalan perekonomian kerakyatan yang telah mereka rancang.
”Kiai,” buka Ang Arya dengan santun, “kami tidak ingin warga kita terus bergantung pada bahan baku impor seperti gandum. Begitu konflik global terjadi dan nilai tukar melonjak, harga tepung terigu naik. Tapi pedagang kita tidak berani menaikkan harga seblak karena daya beli warga juga lemah. Mereka tergerus dari dua sisi.”
Ang Abid menyambung, “Oleh karena itu, kami bersama para pemuda ingin mendorong diversifikasi pangan lokal. Kita punya singkong, ubi, dan jagung yang melimpah di Sumber Watu. Kita harus keluar dari jebakan ‘Negara Tepung’ berbasis gandum impor!”
Kiai Haji Sorara tersenyum penuh kearifan sambil mengelus jenggotnya. “Anak-anakku yang mulia, ikhtiar kalian ini adalah bagian dari jihad ekonomi. Agama mengajarkan kita untuk tidak membiarkan umat berada dalam ketiadaan dan keterpaksaan yang merendahkan martabat. Usaha kalian harus didukung penuh.”
Gerakan Nyata Dua Gadis Solehah
Tak sekadar wacana, gerakan perbaikan ekonomi ini dimotori di lapangan oleh Neng Milda dan Neng Habibah. Kedua gadis desa yang solehah, santun, dan tak kenal lelah ini menjadi garda terdepan penyuluhan UMKM warga.
Setiap akhir pekan, Neng Milda dan Neng Habibah mengumpulkan para ibu rumah tangga dan pedagang kecil di balai desa.
”Ibu-ibu,” tutur Neng Milda lembut saat membuka sesi penyuluhan, “jualan makanan itu bagus, tapi kalau semua jualan hal yang sama, modal kita akan habis untuk perang harga. Kita perlu belajar manajemen keuangan dasar dan diferensiasi produk.”
Neng Habibah menambahkan sembari membagikan brosur panduan pelatihan, “Kami dan Mbak Mutia dari Dinas Pendidikan juga memfasilitasi pelatihan keterampilan teknis dan olahan pangan lokal alternatif. Jadi, anak-anak muda kita punya keahlian nyata, bukan sekadar nekat jualan karena tidak ada pilihan kerja lain.”
Merajut Masa Depan Sumber Watu.
Melihat sinergi tersebut, AngFaris memberikan pandangan penutup dari sudut pandang hukum dan bisnis,
”Negara dan tatanan masyarakat yang kuat tidak dibangun di atas rakyat yang dibiarkan berjuang sendiri tanpa jaminan dan perlindungan sosial. Apa yang dilakukan Ang Arya, Ang Abid, Neng Milda, dan Neng Habibah dengan bimbingan Kiyayi Haji Sorara serta dukungan Neng Mutia dari birokrasi adalah langkah nyata memecahkan ‘gelembung’ ekonomi yang rentan ini.”
Di bawah naungan saung pesantren dan keteduhan malam Kabupaten Sumber Watu, kolaborasi itu mulai memancarkan harapan. Mereka sadar, membangun perekonomian bangsa butuh keberanian untuk membenahi akar masalah bukan sekadar terbuai oleh ramainya jajanan di pinggir jalan.
Semoga perjuangan Ang Arya dan Ang Abid besama Neng Milda & Neng Habibah beserta seluruh dukungan masyarakat untuk mewujudkan program ketahanan pangan demi tercapai ya kesejahteraan bagi seluruh rakyat mendapatkan ridho Allah S.W.T, aamiin.
_ T A M A T_
















