BANTEN  

Dua Tahun Jadi Tokoh Banten, Dua Kado Disuguhkan AS

LEBAK, CNC MEDIA – Baru dua tahun menahkodai Banten, tokoh berinisial AS disebut telah memberikan dua “kado istimewa” kepada masyarakat Banten. Namun, kado tersebut justru menimbulkan aroma tak sedap yang sulit hilang dari pendengaran publik.

Dua Kado AS untuk Banten
1. Berdasarkan hasil Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), terdapat kelebihan bayar APBD Provinsi Banten tahun 2025 sebesar Rp 2,7 miliar di Dinas Kesehatan dan Rp 3,19 miliar di Dinas PUPR Banten.
2. Kasus dugaan asusila berdasarkan pengakuan seorang perempuan bernama Ida Farida.

Kritik Moral dan Kepemimpinan
Ketua Umum Ormas Badak Banten Perjuangan, Eli Sahroni atau King Badak, menilai keberhasilan AS tidak sebaik tokoh Banten sebelumnya. Menurutnya, akhlak dan moralitas seorang pemimpin adalah fondasi utama.

“Selama pemimpin tidak memiliki akhlak dan moral yang baik, maka Banten akan jauh dari berhasil. Pembangunan tidak akan menjadi pembicaraan positif di akar rumput,” ujar Eli Sahroni.

Ia menambahkan, masyarakat menengah ke bawah sudah terbiasa dengan isu korupsi. Sejak Banten berdiri sebagai provinsi, praktik korupsi terus menggurita meski setiap gubernur berjanji memberantasnya.

Nama AS kini lebih dikenal bukan karena jabatan, melainkan dugaan kasus pelecehan seksual terhadap perempuan yang bukan istrinya. Keberhasilan memimpin Banten, kata Eli, hilang oleh rusaknya akhlak dan moralitas.

“Siapa bilang AS berhasil menakhodai Banten? Faktanya, korupsi tetap ada di OPD Dinkes dan PUPR. Bahkan proyek unggulan AS, yakni proyek jalan desa (Bang Andra), hampir satu miliar dikorupsi,” tegas Eli Sahroni. Minggu (12/7/2026).

King Badak menegaskan, akhlak dan moral adalah bagian dari perilaku kepribadian seorang pemimpin. Ia menilai tindakan amoral AS tidak bisa ditoleransi tanpa penegakan hukum.

“Jika saja Sultan Maulana Hasanudin, pendiri Kesultanan Banten, masih hidup, pasti murka dengan adanya kasus ini. Marwah Banten telah rusak oleh perbuatan seorang tokoh yang kini memimpin,” ujarnya.

Lebih lanjut, King Badak mendesak masyarakat Banten agar membuka mata dan hati, menyadari rusaknya marwah Banten akibat perilaku pemimpinnya.

“Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa zalim. Itulah pesan dalam HR Abu Daud dan Tarmizi,” pungkasnya. (Red-CNC)