SUMEDANG, CNC MEDIA — Karaton Sumedang Larang kembali menggelar Festival Budaya Karaton Sumedang Larang pada 25 Agustus hingga 6 September 2025. Festival tahunan ini bertepatan dengan bulan Maulid (Rabiul Awal), sebagai bentuk penghormatan terhadap hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, sekaligus pelestarian budaya Sunda dalam satu kesatuan yang harmonis.
“Festival ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga jalan untuk menyambung rasa syukur, menghormati warisan leluhur, serta meneladani akhlak Rasulullah SAW,” Rd. Lily Djamhur Soemawilaga, Ketua Pelaksana Festival & Mahapatih Karaton Sumedang Larang
Harmoni Agama dan Budaya
Lebih dari sekadar seremoni, festival ini menjadi ruang pelestarian nilai-nilai luhur Sunda yang berpadu dengan semangat Islam. Setiap kegiatan dirancang untuk memperkuat identitas masyarakat Sumedang, mengingatkan bahwa agama dan budaya dapat berjalan beriringan dalam damai dan keberkahan.
Rangkaian Kegiatan Utama
Berikut lima agenda utama yang akan mewarnai Festival Budaya Karaton Sumedang Larang 2025:
24 Agustus Nyuguh Ageung Tradisi menghaturkan syukur kepada Allah SWT melalui sajian makanan dan hasil bumi sebagai simbol berkah dan keselamatan. |
25 Agustus Jamasan Pusaka Prosesi penyucian pusaka sebagai lambang menjaga jati diri dan nilai kehidupan luhur masyarakat Sunda.
25 Agustus Kirab Pusaka / Kirab Alit Arak-arakan pusaka karaton keliling kota sebagai simbol menjaga amanah karuhun dan memperkuat identitas budaya. |
5–7 September Pasanggiri Duta Ajang pemilihan putra-putri Karaton Sumedang Larang yang mengedepankan kecintaan terhadap budaya dan nilai-nilai luhur.
5 September Tausyiah Maulid Nabi Muhammad SAW Puncak acara berupa tausyiah yang mengangkat keteladanan Rasulullah SAW: kasih sayang, kejujuran, dan kepemimpinan yang bijak.
Selain itu, festival juga diramaikan oleh Bazar & Pameran UMKM Lokal yang menampilkan kuliner khas Sumedang, batik, kerajinan tangan, dan produk kreatif masyarakat.
Pesan dari Karaton Sumedang Larang
Rd. Lily Djamhur Soemawilaga menegaskan bahwa festival ini adalah momentum menyatukan umat dan memperkuat nilai-nilai spiritual serta budaya:
“Lewat Nyuguh Ageung kita belajar berbagi, lewat Kirab Pusaka kita belajar menjaga amanah, lewat Jamasan kita belajar menyucikan hati, dan lewat Maulid kita belajar meneladani Rasulullah. Semua ini harus terus diwariskan.”
Radya Anom Karaton Sumedang Larang, Rd. Luky Djohari Soemawilaga, turut mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung dan berpartisipasi:
“Kami berharap doa, dukungan moral, dan bantuan dari berbagai pihak, karena festival ini persembahan untuk masyarakat sekaligus amanah dari karuhun.”
Sri Radya Karaton Sumedang Larang, H. Rd. Ikik Lukman Soemadisoeria, menambahkan, “Karaton Sumedang Larang tidak bisa dipisahkan dari masyarakatnya. Tradisi ini adalah warisan bersama, milik urang Sumedang sadayana.”
Menjaga Warisan, Menyongsong Masa Depan
Festival Budaya Karaton Sumedang Larang adalah wujud pepatah Sunda: “Ngindung ka waktu, mibapa ka jaman, mulang ka asal.” Meski hidup mengikuti perkembangan zaman, masyarakat Sumedang tetap menjunjung tinggi asal-usul dan warisan leluhur sebagai fondasi kehidupan yang bermartabat. (Red-CNC)















