SERANG, CNC MEDIA – Proyek revitalisasi SMAN Pontang yang dibiayai oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten Tahun Anggaran 2026 diduga dikerjakan asal-asalan. Temuan di lapangan menunjukkan dua pelanggaran fatal: abaikan K3 dan pengurangan mutu beton.
Pekerja Tanpa APD, K3 Hanya di Atas Kertas
Pantauan pada 13 Agustus 2026 memperlihatkan pekerja bekerja tanpa helm keselamatan maupun safety belt. Tidak ada rambu K3 maupun papan proyek di lokasi. Padahal, proyek ini menggunakan anggaran negara yang bersumber dari pajak rakyat. “Ini bukan membangun, ini judi. Judi nyawa pekerja dan nyawa ratusan siswa yang akan pakai gedung ini,” ujar seorang sumber di lokasi.
Pengakuan Mandor: “Iya Dicampur Air Lah Pak”
Lebih mengejutkan, Harun selaku mandor mengakui secara terang-terangan bahwa ia memerintahkan pencampuran air ke adukan beton. Alasannya sederhana: agar adukan tidak cepat mengeras dan untuk hemat sewa alat.
“Iya dicampur air lah pak. Kalau enggak ya keburu keras. Sewa alat biayanya membengkak, kan cuma satu mobil ya dilansir aja,” kata Harun.
Satu truk molen dilansir ke beberapa titik, sehingga kualitas beton K-225 berpotensi turun drastis menjadi setara K-100.
Tanggung Jawab Siapa?
Pertanyaan besar muncul: di mana peran Tim Teknis Disdik Banten dan konsultan pengawas? Jika praktik ini dibiarkan, proyek revitalisasi bisa berubah menjadi bom waktu.
Inspektorat Provinsi Banten dan Kejaksaan didesak segera turun tangan untuk melakukan audit mutu sekaligus mengusut dugaan korupsi. Siswa membutuhkan sekolah yang layak, bukan gedung yang berisiko ambruk.
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak terkait belum berhasil dikonfirmasi. (Wahyu-CNC)















