LEBAK, CNC MEDIA – Pemberitaan media online Delik Hukum pada 11 Juli 2026 yang menarasikan adanya pemotongan anggaran pembangunan irigasi P3-TGAI kelompok P3A Cirepet, menuai bantahan keras. Narasi tersebut bahkan diunggah ke akun TikTok milik oknum awak media, dengan mencatut nama Kepala Desa dan Ketua P3A Cirepet. Pihak desa menilai pemberitaan itu sebagai kebohongan atau berita hoaks.
Ahmad, Kepala Desa Jagabaya Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak, menegaskan dirinya tidak pernah menyampaikan adanya pemotongan anggaran. “Saya tidak pernah mengatakan ada pemotongan anggaran kegiatan pembangunan irigasi P3-TGAI Cirepet. Pikir saja dengan akal sehat, kalau dipotong 30 persen, bagaimana bisa membangun irigasi? Bisa-bisa pekerjaan tidak selesai,” ujarnya di kantor desa. Senin (13/7/2026).
Madhadi, Bendahara P3-TGAI Cirepet, juga membantah isu tersebut. “Pemberitaan di media itu tidak benar. Semua pekerjaan kami laksanakan sesuai spesifikasi. Kalau ada potongan, saya pasti tahu. Faktanya tidak ada potongan anggaran. Bahkan nama Ketua P3A dicatut tanpa izin, ini jelas pembohongan publik,” tegasnya.
Tisna, Ketua LSM Laskar Banten Reformasi (LBR) Kabupaten Lebak, menilai pemberitaan tersebut berpotensi digugat pihak yang dirugikan. “Kegiatan masih berjalan dan selalu dimonitor tenaga teknis dari BBWSC3. Kalau tidak sesuai spesifikasi pasti dibongkar. Yang berhak menyatakan itu adalah BBWSC3, bukan wartawan atau pihak lain,” jelasnya.
Sementara itu, Eli Sahroni atau King Badak, Ketua Umum Badak Banten Perjuangan, menyayangkan pemberitaan yang dinilai tidak beretika. “Pemberitaan harus obyektif berdasarkan data dan fakta, bukan asumsi. Wartawan yang menulis berita hoaks bisa dikenakan sanksi etik bahkan pidana. Rusaknya marwah jurnalis terjadi akibat oknum yang tidak memiliki sertifikasi uji kompetensi,” katanya.
King Badak menambahkan, setiap berita harus diteliti kebenarannya agar tidak merugikan pihak lain. “Kegiatan pembangunan irigasi selalu diawasi BBWSC3 dan TPM yang setiap hari berada di lokasi. Saat ini progres fisik sudah mencapai 70 persen dan masuk tahap evaluasi PHO. Tidak mungkin ada kesalahan spesifikasi karena pengawasan ketat dilakukan,” pungkasnya. (Red-CNC)















