OPINI  

Duel Filsafat

Oleh :
I.Ang Faris
(Kigendeng faksibuana)…

Bab 1: “Pertarungan Dimulai”

Di sebuah negeri yang penuh dengan intrik politik dan kekuasaan, dua sosok kuat berhadapan dalam sebuah duel filsafat. Luhut Binsar Pandjaitan, seorang tokoh yang dikenal dengan kekuasaan dan pengaruhnya, berhadapan dengan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan yang teguh dan berani mengambil keputusan.

Bab 2: “Family Office”

Luhut yakin bahwa proyek Family Office adalah jawaban untuk meningkatkan perekonomian negeri. Ia percaya bahwa dengan menarik investasi asing, negeri ini dapat terbang dengan sayap modal asing. Namun, Purbaya memiliki pandangan yang berbeda. Ia tahu bahwa setiap “nol persen pajak” memiliki potensi “seratus persen masalah”.

Bab 3: “Duel Pantun”

Luhut dan Purbaya terlibat dalam sebuah duel pantun yang cerdas dan menghibur. “Orang kaya parkir di Family Office, katanya suci tak berjejak dosa. Tapi Purbaya menolak dengan tegas, sebab uang rakyat bukan persembahan pesta.” Pantun ini menggambarkan esensi dari duel filsafat antara kedua tokoh ini.

Bab 4: “Pertarungan Berlanjut”

Pertarungan antara Luhut dan Purbaya terus berlanjut. Publik terbelah, ada yang mendukung Luhut dan ada yang mendukung Purbaya. Namun, di tengah kebisingan itu, Purbaya tetap teguh pada prinsipnya. Ia tahu bahwa menolak kadang jauh lebih heroik daripada menandatangani.

Bab 5: “Akhir dari Sebuah Pertarungan”

Di ujung cerita, langit memang tetap di tangan Luhut, tapi bumi, bumi anggaran, masih dijaga oleh seorang Menkeu yang tahu bahwa menolak kadang jauh lebih heroik daripada menandatangani. Purbaya tersenyum menatap neraca, sementara Luhut menuding langit bergetar.

Epilog

Duel filsafat antara Luhut dan Purbaya akan menjadi catatan sejarah. Ada menteri yang berani menolak menjadi bendahara pesta. Di saat semua orang ingin tampil glamor di gala dinner kapitalisme global, ia memilih menjaga dapur negara dari kebocoran minyak goreng. Dan sejarah akan menulis bahwa Purbaya adalah seorang pahlawan yang berani mengambil keputusan sulit untuk menjaga kepentingan rakyat.