Pagi ini, saat semburat fajar mulai membasuh cakrawala Binuangeun, pikiran saya menerawang jauh ke hamparan Pantai Pasir Putih Cihara. Di sana, di atas pasir yang menjadi saksi bisu bagi deburan ombak Samudera Hindia yang tak pernah lelah, sebuah sejarah sedang dipintal. Rencana silaturahmi dan halal bi halal Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) se-wilayah calon Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Cilangkahan bukan sekadar ritus musiman pasca-Lebaran.
Bagi saya, ini adalah sebuah proyek “reintegrasi intelektual” yang mendalam, sebuah kepulangan ideologis bagi putra-putri daerah yang selama ini melanglang buana menyerap sari pati ilmu di tanah rantau.
Sebagai alumnus Aqidah Filsafat, saya melihat fenomena “mudik intelektual” ini melalui kacamata dialektika. Kita yang dulu berkutat di ruang-ruang kuliah yang pengap di Serang, Jakarta, Bandung, Lampung, hingga Semarang dan Surabaya, kini kembali ke titik nol.
Kita pulang membawa bagage (bekal) disiplin ilmu yang beragam hukum, teknik, ekonomi, sosial, hingga humaniora. Namun, kepulangan ini akan menjadi sia-sia jika hanya berhenti pada eforia kangen-kangenan.
Potensi yang terserak ini adalah kepingan-kepingan puzzle sejarah yang harus segera dijahit menjadi satu kesatuan visi yang utuh demi satu nama: Cilangkahan.
Cilangkahan adalah mimpi yang telah lama mengeram dalam rahim penantian masyarakat pakidulan. Ia adalah media pemersatu yang ampuh, yang mampu memanggil kembali ingatan kolektif kita tentang tanggung jawab moral, sosial, dan politik terhadap tanah kelahiran.
Dalam perspektif eksistensialisme, keberadaan Kabupaten Cilangkahan nantinya hanya akan bermakna jika ia mampu memberikan kemaslahatan bagi penghuninya.
Otonomi daerah bukanlah sekadar urusan administratif-geografis atau bagi-bagi kursi kekuasaan di birokrasi baru. Ia adalah manifestasi dari kehendak bebas (free will) sebuah komunitas untuk menentukan nasibnya sendiri secara mandiri.
Namun, kemandirian menuntut kesiapan. Di sinilah peran krusial KAHMI sebagai agent of intellectual drive. Kita tidak ingin Cilangkahan lahir sebagai bayi yang gagap di tengah kepungan perubahan zaman.
Diaspora yang pulang harus menjadi “intelektual organik” yang mampu menjembatani antara harapan rakyat di akar rumput dengan kebijakan di tingkat elit. Ulah nepika urang poekeun obor (jangan sampai kita kehilangan pelita) di rumah sendiri.
Kita harus menjadi suluh yang menerangi jalan pembangunan, bukan justru menjadi beban baru bagi birokrasi.
Di Cihara nanti, di bawah panji Hijau-Hitam, kita akan melakukan konvergensi intelektual. Keberagaman disiplin ilmu yang kita miliki adalah kekayaan yang tak ternilai.
Bayangkan jika alumni dari Bandung membawa rancang bangun infrastruktur yang selaras alam, rekan-rekan dari Surabaya menyuntikkan semangat niaga dan pemberdayaan ekonomi maritim, sementara kawan-kawan dari Jakarta dan Serang mengawal tata kelola pemerintahan yang bersih (good governance).
Sinergi ini akan menjadi gelombang pasang yang mampu menggerakkan roda kemajuan Cilangkahan secara akseleratif.
Kita harus masagi serba bisa dan seimbang dalam melihat tantangan. Sumber Daya Alam (SDA) Cilangkahan yang melimpah, mulai dari potensi kelautan hingga agraria, akan menjadi objek eksploitasi yang kering jika tidak dikelola oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dan memiliki visi etis.
Inilah mengapa “Deklarasi Cihara” yang akan kita kumandangkan nanti menjadi begitu penting. Ia adalah sebuah manifes khidmah, sebuah janji suci yang mengikat kita secara moral untuk mewakafkan kepakaran demi masa depan anak cucu.
Dalam kesendirian kontemplatif saya, saya sering merenungkan: apakah kita sudah cukup siap? Pertemuan di Cihara adalah jawaban atas keraguan itu. Kita berkumpul untuk menyatukan tetempoan (pandangan) yang sempat terpisah jarak dan waktu.
Kita merajut kembali silaturahmi bukan hanya sebagai alumni organisasi, tapi sebagai putra-putri daerah yang memiliki hutang budi pada tanah yang telah melahirkan kita. Urang kudu pinter nunda pinter ngala kita harus pandai menempatkan diri dan mengambil peran strategis tanpa harus kehilangan jati diri sebagai Insan Cita yang rendah hati (handap asor).
Membangun Cilangkahan adalah membangun peradaban. Ini adalah kerja panjang yang membutuhkan napas yang dalam. Silaturahmi di Cihara nanti hanyalah garis awal.
Sesudahnya, ada peta kepakaran yang harus kita isi, ada rekomendasi kebijakan yang harus kita susun, dan ada pengabdian nyata yang harus kita buktikan.
Kita ingin, saat Kabupaten Cilangkahan resmi berdiri, dunia melihat bahwa daerah ini lahir dari rahim pemikiran yang matang, bukan sekadar syahwat politik sesaat.
Mari kita jadikan momentum ini sebagai titik balik. Hijau melambangkan kemakmuran yang kita dambakan untuk Cilangkahan, dan Hitam adalah keteguhan iman yang menjadi jangkar bagi setiap tindakan kita.
Di bawah langit Cihara, mari kita berikrar: bahwa kita pulang bukan untuk menjadi tamu, tapi untuk menjadi tuan rumah yang bertanggung jawab. Mari kita basuh rindu ini dengan keringat pengabdian, agar Cilangkahan tidak hanya menjadi nama di atas peta, tapi menjadi rumah yang hangat, mandiri, dan penuh berkah bagi seluruh rakyatnya.
Yakin Usaha Sampai.
***
Binuangeun, 2 Syawal 1447 H














