Apakah Cuaca Dingin Diakibatkan Fenomena Aphelion? Ini Penjelasan dari Peneliti Lapan

Jakarta, CNC MEDIA.- Beredar di beberapa grup Whatsapp soal dinginnya cuaca saat ini dan kaitannya dengan fenomena aphelion. Disebutkan dalam broadcast tersebut jika mulai Selasa (13/7/2021) kemarin pukul 05.27, bumi akan mengalami apa yang dinamakan fenomena Aphelion.

Di mana letak bumi akan sangat jauh dr matahari. Kita tidak bisa melihat fenomena tersebut, tapi kita bisa merasakan dampaknya. Ini akan berlangsung sampai bulan Agustus. Kita akan mengalami cuaca yang dingin melebihi cuaca dingin sebelumnya, yang akan berdampak meriang flu, batuk, sesak nafas dll. Oleh Karena itu mari kita semua tingkatkan imun dengan banyak meminum vitamin atau suplemen agar imun kita kuat. Semoga kita semua selalu ada dalam lindunganNYA. Aamiin,” demikian bunyi broadcast tersebut.

Lebih jauh disebutkan jika saat ini, “ Jarak bumi ke matahari perjalanan 5 menit cahaya atau 90.000.000 km. Fenomena Aphelion menjadi 152.000.000 km . 66 % lebih jauh. Jadi hawa lebih dingin, dampaknya ke badan kurang enak karena tidak terbiasa dengan suhu ini”.

Baca juga :  Politikus PDIP: Saya Menolak Vaksin Covid-19, kalau Dipaksa Pelanggaran HAM

Benarkah demikian? Dikutip dari edukasi. sains.lapan.go.id, Peneliti Pusat Sains dan Antariksa Lapan, Andi Pangerang menjelaskan mengenai fenomena Aphelion.

Aphelion merupakan fenomena di mana posisi Bumi berada pada titik terjauh dengan Matahari.

Menurutnya, Aphelion tahun ini justru terjadi pada tanggal 6 Juli 2021 pukul 05.27 WIB / 06.27 WITA / 07.27 WIT pada jarak 152.100.527 km.

Aphelion dapat terjadi dikarenakan orbit Bumi tidak sepenuhnya pada lingkaran sempurna, melainkan berbentuk elips dengan kelonjongan sekitar 1/60.

Sehingga, setiap tahunnya Bumi berada pada jarak terdekat dengan Matahari yang disebut Perihelion.

Fenomena Perihelion ini terjadi setiap bulan Juli. Dan Bumi berada pada jarak terjauh dari Matahari, yang disebut Aphelion.

Mengenai dampaknya, tidak ada dampak yang signifikan pada Bumi.

Suhu dingin yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan karena fenomena Aphelion. Suhu dingin yang akan berlangsung hingga bulan Agustus ini merupakan hal yang biasa pada musim kemarau.

Hal ini, dikarenakan tutupan awan yang sedikit, sehingga tidak ada panas dari permukaan Bumi yang diserap dari cahaya Matahari dan dilepaskan pada malam hari. Kemudian, dipantulkan kembali ke permukaan Bumi oleh awan.

Baca juga :  Prabowo "Happy" Jokowi Tunjuk Sandi Uno Jadi Menteri Parekraf

Mengingat posisi Matahari saat ini berada di utara, maka tekanan udara di belahan utara lebih rendah dibanding belahan selatan yang mengalami musim dingin.

Maka dari itu, angin bertiup dari arah selatan menuju utara dan saat ini angin yang bertiup tersebut berasal dari arah Australia yang memang mengalami musim dingin.

Dampak yang ditimbulkan adalah adanya efek penurunan suhu, khususnya di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara yang terletak di selatan khatulistiwa, yang saat ini sedang terjadi.

Selain itu, posisi Bumi yang berada pada titik terjauh dari Matahari juga tidak mempengaruhi panas yang diterima Bumi.

Hal ini dikarenakan panas dari Matahari terdistribusi ke seluruh Bumi. Di mana distribusi yang paling signifikan yang mempengaruhinya disebabkan oleh pola angin.

Saat ini, angin bertiup dari arah selatan yang musim dingin, maka kita akan merasakan suhu yang lebih dingin. Adapun diameter Matahari akan terlihat sedikit lebih kecil dibandingkan rata-rata, yakni sekitar 15,73 menit busur atau
berkurang 1,68 persen.

Baca juga :  HOAKS... Beredar Foto Wapres Bolehkan Investasi Miras untuk Kas Negara

Jadi, adanya fenomena Aphelion ini tidak mempengaruhi suhu dingin dan suhu panas yang diterima Bumi.

Redaksi CNC MEDIA

CNC MEDIA

Akurat dan terpercaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *